Minggu, 07 Februari 2021

Tipe Pendekatan Konseling

Antara behavior dan kognitif memiliki perbedaan dalam memandang perilaku manusia, karena behavior lebih menitikberatkan pada perilaku-perilaku yang nampak dilakukan seseorang sedangkan kognitif menitikberatkan pada pemikiran dan kepercayaan seseorang yang menimbulkan suatu perilaku. Hal itu pula yang menjadi faktor terbentuknya perilaku seseorang.


Langkah dalam melakukan konseling behavioral adalah:

1. Assesment, yaitu kegiatan menentukan masalah dan bertujuan memilih metode yang akan digunakan.

2. Goal setting, yaitu kegiatan menyepakati tujuan dan penyelesaian masalah.

3. Technique implementation, yaitu kegiatan konseling dengan mengimplementasikan atau melaksanakan teknik/metode yang telah ditentukan sebelumnya.

4. Evaluation termination, yaitu kegiatan mengevaluasi kegiatan konseling yang telah dilakukan.

5. Feedback, yaitu umpan balik bagi konselor agar lebih baik dalam konseling selanjutnya.


Langkah dalam melakukan konseling kognitif adalah

1. Mengingat (remembering)

2. Memahami (understanding)

3. Menerapkan (applying)

4. Menganalisis (analyzing)

5. Mengevaluasi (evaluating)

6. Mencipta (creating)


Singkatnya, perbedaan langkah antara konseling kognitif dengan behavior adalah fokus yang diperbaikinya. Kognitif fokus memperbaiki pemikiran dan kepercayaan yang dipegang konseli agar lebih baik. Sedangkan behavior lebih fokus pada perilaku dan kebiasaan.


Ciri-ciri individu yang sakit dan dapat dibantu dengan terapi CBT adalah:

1. Membuat kesimpulan sendiri tanpa didukung oleh fakta.

2. Memandang keadaan dari peristiwa-peristiwa buruk yang mengarah pada kekurangan.

3. Berlebihan dalam memandang sesuatu, terlalu menggeneralisasi. 

4. Memandang sesuatu dengan lebih besar atau lebih kecil dari yang seharusnya.

5. Menghubung-hubungkan hal di luar diri pada dirinya sendiri meskipun bisa saja hal di luar dirinya sama sekali tidak berhubungan.

6. Menetapkan gambaran seseorang berdasarkan kekurangan atau kesalaham di masa lampau.

7. Berpikir dikotomis, yaitu memandang sesuatu dengan mengkategorikan hitam-putih dari pengalaman baik atau ekstrem.


Langkah dalam melakukan pendekatan dengan teknik CBT adalah indentifikasi masalah pada konseli dengan asesmen, rekonstruksi kognitif dengan menanyakan kembali pada konseli mengenai pikiran-pikiran negatifnya, identifikasi dan koreksi dimana pasien diminta untuk mengidentifikasi dan mengubah pikiran disfungsional, mencatat pikiran, modifikasi perilaku, dan follow up. 


Langkah dalam melakukan pendekatan menggunakan REBT adalah bekerja sama dengan konseli, asesmen, mempersilahkan konseli untuk konseling atau terapi, mengimplementasikan program, evaluasi kemajuan, dan pengakhiran konseling saat tujuan sudah tercapai.


Jika teman-teman ingin melihat contoh konseling dengan teknik CBT, saya dan teman saya pernah membuat videonya dan teman-teman bisa mengaksesnya melalui link berikut.

https://youtu.be/n0FkIstrcl0


Referensi:

https://www.alomedika.com/tindakan-medis/psikiatri/cognitive-behavioral-therapy/teknik

http://abdrauf4060.blogspot.com/2012/12/teknik-konseling-dalam-pendekatan.html?m=1

Mengenal Kenakalan Remaja

Kenakalan remaja menjadi salah satu jenis patologi sosial. Kenakalan remaja adalah perilaku menyimpang yang dilakukan oleh remaja. Perilaku ini dikatakan menyimpang karena melanggar norma, nilai, dan hukum yang berlaku di lingkungannya.


Menurut Howard Becker (1966: 226-38) jenis kenakalan remaja dibagi menjadi empat macam, yaitu:

1. Kenakalan remaja-remaja per orangan adalah kenakalan yang dilakukan oleh satu orang saja, biasanya dilakukan oleh remaja yang mengalami masalah psikologis dari trauma di masa lalunya.

2. Kenakalan remaja berkelompok dilakukan dengan dukungan kelompok. Sebab masalahnya tidak terletak pada kepribadian individu atau keluarganya, tetapi pada unsur budaya dan lingkungan.

3. Kenakalan remaja terorganisir dilakukan oleh kelompok yang sudah terkembang secara diorganisir dengan formal. Kenakalan ini didasarkan pada norma yang berlaku dalam kelompok.

4. Kenakalan remaja situasional dilakukan saat ada momentum atau kesempatan untuk melakukan kenakalan. Berbeda dengan jenis-jenis sebelumnya yang memiliki akar masalah dalam, jenis ini sering kali memiliki akar masalah yang sederhana dan dangkal.


Salah satu kenakalan remaja adalah tawuran antarpelajar. Kasus ini sudah sering kali kita dengar dan tak jarang menimbulkan korban, baik korban luka maupun korban jiwa. Penyebab dari tawuran juga tidak karena satu hal. Menurut Kartini Kartono yang menggolongkan penyebab kenakalan remaja menjadi empat poin, yaitu biologis, psikogenis, sosiogenis, dan subkultur. Salah satu kasus yang saya ambil sebagai contoh adalah kasus tawuran antarpelajar di Depok ini.

https://www.google.com/amp/s/amp.kompas.com/megapolitan/read/2020/07/21/10012351/tawuran-antarpelajar-di-depok-satu-remaja-kena-bacok-lalu-tak-sadarkan

Maka penyebab tawuran bisa masuk pada psikogenis dan sosiogenis karena siswa yang melakukan tawuran mendapat dorongan dari kelompoknya untuk membuktikan bahwa dirinya dan kelompoknya adalah yang paling baik dan lebih kuat dari kelompok lawan. 


Seandainya kita posisikan sebagai kenakalan dari empat poin, yaitu kenakalan individual, kenakalan situasional, kenakalan sistemik, dan kenakalan kumulatif, maka akan berkemungkinan seperti berikut:

1. Jika pelaku tawuran diposisikan sebagai kategori kenakalan individual, maka berkemungkinan ia memiliki gangguan psikologis seperti psikopat atau asosial. Bisa di bilang ia memiliki psikologi yang abnormal. 

2. Jika pelaku tawuran tadi diposisikan dalam kategori kenakalan situasional, maka ia memiliki psikologi yang normal. Akan tetapi, ia ditekan oleh kelompoknya untuk melakukan kenakalan remaja dengan contoh tawuran.

3. Jika pelaku tawuran diposisikan dalam kategori kenakalan sistemik, maka kenakalannya didukung oleh kelompok tanpa adanya tekanan. 

4. Jika pelaku tawuran diposisikan dalam kategori kenakalan kumulatif, maka penyebab ia melakukan kenakalan itu adalah karena banyaknya contoh di masyarakat.


Pelaku tawuran dapat dikategorikan penyimpangan perilaku asosial karena ia tau itu salah tapi masih tetap melakukan karena menganggap hal itu bisa membuatnya diakui oleh orang sekitar, dianggap lebih hebat dan kuat oleh kelompok lain.


Referensi:

Weya, Bas. (2015). Peran Orang Tua Dalam Menanggulangi Kenakalan Remaja di Kelurahan Kembu Distrik Kembu Kabupaten Tolikara. Jurnal Holistik. Halaman 5-7.

https://dosensosiologi.com/jenis-kenakalan-remaja/


Minggu, 13 Desember 2020

Konseling Behavior dan Kognitif

 

Teori Behavior dan Kognitif memandang manusia terlahir dengan keadaan netral (tidak baik atau pun jahat), lahir dengan membawa kebutuhan bawaan, dan memperoleh tingkah laku melalui proses belajar selama hidupnya yang akan membentuk kepribadiannya sebagai individu.

Ada beberapa ciri yang menandakan individu sehat menurut teori Behavior dan Kognitif. Ini dikatakan oleh Beck & Weishaar (2008) Ciri-cirinya adalah:

  1. Membuat kesimpulan sendiri yang sewenang-wenang tanpa didukung oleh fakta yang ada.
  2. Abstraksi selektif, yaitu memandang keadaan dari peristiwa-peristiwa buruk yang mengarah pada kekurangan.
  3. Generalisasi yang berlebihan, yaitu memegang keyakinan ekstrim atas dasar satu peristiwa untuk peristiwa lainnya.
  4. Magnifikasi atau minimalisasi, yaitu memandang sesuatu dengan lebih besar atau lebih kecil dari yang seharusnya.
  5. Personalisasi, yaitu individu yang cenderung menghubung-hubungkan hal di luar diri pada dirinya sendiri meskipun bisa saja hal di luar dirinya sama sekali tak berhubungan.
  6. Labeling dan mislabeling, yaitu menetapkan gambaran seseorang berdasarkan kekurangan atau kesalahan di masa lampau.
  7. Berpikir dikotomis, yaitu membuat kategori hitam putih dari pengalaman baik atau ekstrim.

Ciri individu sehat adalah yang tidak memiliki tujuh poin sebelumnya. Itu berarti ia dapat membuat kesimpulan berdasarkan fakta yang sesuai, tidak memandang keadaan hanya dari peristiwa buruk saja, tidak mengaitkan satu peristiwa untuk peristiwa lainnya dengan ekstrim, memandang sesuatu dengan kadar yang sesuai kenyataan, tidak terlalu menghubungkan kejadian di luar diri dengan diri sendiri jika tidak didukung fakta yang sesuai, memandang seseorang secara utuh bukan dari satu kesan di masa lalu saja, dan berpikir lebih luas, tidak selalu memandang hitam dan putih.

Dalam melakukan konseling behavior dan kognitif, kita harus mengetahui sistematis tahapannya. Daam teori ini, ada lima langkah, yaitu:

1.  Assessment untuk menemukan apa yang sebenarnya terjadi pada konseli saat itu dan mengidentifikasi metode yang sesuai dengan perilaku yang ingin diubah.

2. Goal setting, yaitu mentukan tujuan konseling.

3. Technique implementation, yaitu menentukan teknik yang akan digunakan demi terwujudnya tujuan konseling.

4. Evaluation termination, yaitu menilai kegiatan konseling yang telah dilaksanakan mencapai tujuan konseling.

5. Feedback, yaitu memberikan umpan balik untuk membuat proses konseling selanjutnya lebih baik.

Konsep penting dalam teori ini adalah pandangannya terhadap kepribadian yang dihasilkan dari proses belajar dan pembiasaan yang telah dilakukan individu dan ditunjukkan dengan perilaku atau sikap yang tampak dan dapat dilihat. Jika ada perilaku yang tidak sesuai dengan norma dan nilai yang berlaku di lingkungannya dapat diperbaiki dengan melatih dan membiasakan perilaku yang sesuai. Teori ini lebih menekankan kepada pembentukan tingkah laku dari stimulus dan respon yang dapat diamat, dan tidak berhubungan dengan kesadaran.

Konselor berperan penghubung dan membantu konseli untuk merubah kebiasaan dan perilakunya. Konselor juga membuat suasana hangat dalam konseling agar berjalan dengan efektif dan menjaga interaksi dengan konseli agar dapat membuat kesimpulan dari kegiatan konseling yang akan diujikan dalam bentuk hipotesis. Konselor dan konseli juga sama-sama menentukan kapan dan seberapa sering mereka akan kembali bertemu.

 

Referensi:

Sakinah, Umul. (2018). Konseling Behavioristik dalam Membentuk Perilaku Mandiri Merawat Diri pada Tunagrahita. Jurnal Bimbingan Konseling dan Dakwah Islam. Vol. 15, No. 1. 2018

https://konselorwahyu.wordpress.com/2014/03/31/cognitive-therapy/

https://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/01/23/pendekatan-konseling-behavioral/amp/

Senin, 13 April 2020

Bimbingan dan Konseling Pendidikan Islam

Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh, apa kabar nih teman-teman yang insyaallah lulus SMA tahun ini? Sudahkah menyiapkan pilihan perguruan tinggi dan program studi yang akan dituju?
Hari ini aku mau kasih info untuk teman-teman, kalau di Universitas Ibn Khaldun Bogor ada prodi Bimbingan dan Konseling Pendidikan Islam lho!
Bersama dosen-dosen yang sudah profesional di bidangnya, teman-teman akan dididik untuk menjadi konselor islami. Teman-teman akan dituntun untuk sehat secara utuh, tentu saja bukan hanya sehat fisik tapi juga sehat mental.
Yuk, gabung bersama kami untuk menjadi konselor islami!



Minggu, 03 November 2019

Agama dan Bahagiamu


Assalamu’alaikum! Kembali lagi nih dengan catatan perkuliahan Naila. Kali ini Naila mau share tentang dua tema yang kami bahas di kelas pada teman-teman. Apa sih temanya?

Temanya adalah Ad-Din (agama) dan As-Sa’adah (kebahagiaan). Ini adalah tema yang dibahas pada pertemuan ke enam mata kuliah Islamic Worldview bersama dosen kami yaitu Dr. Wido Supraha, M.Si., tanggal 29 Oktober 2019 di Universitas Ibn Khaldum Bogor.

Kita mengenal istilah “agama samawi” yang maksudnya adalah agama yang diturunkan dari langit. Ada tiga agama yang disebut agama samawi yaitu Islam, Yahudi, dan Nasrani. Tetapi Allah tidak menurunkan agama selain Islam. Sedangkan agama lainnya adalah agama yang dibuat oleh manusia.

Sejak Nabi Adam pun agamanya adalah Islam, tetapi pada generasi ke-10 mulai ada orang yang menyembah berhala dan memunculkan agama lain dan menyimpang dari Islam. Maka Allah turunkan Rasul pertama yaitu Nuh as.

Lalu Allah turunkan Rosul dan kitab di beberapa masa agar manusia tetap pada tauhid yang benar.
Nabi Musa as dengan mukzizat Kitab Taurat, Nabi Dawud as dengan mukzizat  Kitab Zabur, Nabi Isa as dengan Kitab Injil, dan Nabi Muhammad saw dengan Kitab Al-Qur’an.

Dalam Al-Qur’an tidak disebutkan adanya Kristen karena di dalam Bahasa Inggris, Christian adalah Warrior yang artinya prajurit. Makanya, di dalam Al-Qur’an yang disebutkan adalah Nasrani. Maksudnya Nasrani adalah nama desa tempat tinggal Nabi Isa as dahulu yang bernama desa Nasran dan orang-orangnya disebut Nasrani. Ada pula sahabt-sahabat Nabi Isa as yang selalu membantu dan setia kepada Nabi Isa as disebut hawaariyyun hal ini disebutkan dalam QS As-Saff ayat 14.

Untuk Yahudi, ada tiga teori yang menyebutkan asal mula namanya,
  1. Kaum Yahudi durhaka kepada Nabi Musa as hingga membuat Nabi Musa as marah besar,
  2. Kaum Yahudi mengubah sujud menjadi goyangan kepala di depan tembok ratapan,
  3. Kaum Yahudi adalah keturunan Yehuda, keturunan dari Nabi Ishak as dan Nabi Ibrahim as.

Islam sebagai agama wahyu karena:
  1. Nama Islam diberikan oleh wahyu
  2. Nama dan konsep Tuhan berasal dari wahyu
  3. Tata cara ibadah berdasarkan wahyu
  4. Islam memiliki model yang hidup
  5. Islam agama fitrah yang fitrah dan benar

Konsep bahagia (As-Sa’adah) disebutkan dalam QS Hud ayat 105 dengan maksud orang-orang yang bahagia di akhirat dan bahagia di akhirat adalah kebahagiaan yang hakiki. Karena bahagia di dunia ada batasnya. Meski diberikan hal enak tentang dunia secara terus menerus tanpa jeda, maka kita pun akan merasakan kesengsaraan.

Allah yang Mahakaya dan tidak memerlukan apapun, kitalah yang memerlukan Allah karena Dialah yang memberikan kekayaan dan kecukupan, hal ini disebutkan dalam QS Fatir ayat 105 dan QS An-Najm ayat 48.

Kaya yang dimaksud adalah jiwa yang kaya dan merasa cukup atas apa yang telah dimiliki dan diberikan oleh Allah. Orang yang miskin adalah orang yang tak merasa cukup. Bisa saja seseorang memiliki harta berlimpah tapi tidak pernah merasa cukup, maka ia adalah orang yang miskin.

Orang yang kaya jiwanya pastilah memiliki sifat zuhud. Zuhud artinya apa yang ada di sisi Allah lebih baik dari apa yang ada di tangannya.

Sekian ya catatan perkuliahan mata kuliah Islamic Worldview yang Naila tulis. Terima kasih untuk teman-teman yang telah berkenan membaca tulisan Naila :) semoga ada hikmah yang bisa diambil dari tulisan ini. Wassalamu’alaiku warrahmatullahi wabarrakatuh


Selasa, 22 Oktober 2019

Konsep Manusia

Assalamu'alaikum! Ketemu lagi nih dengan catatan perkuliahan Naila. Kali ini Naila mau share tema konsep manusia secara khusus. Catatan ini Naila dapat dari mata kuliah Islamic Worldview pertemuan kelima bersama dosen kami Dr. Wido Supraha, M.Si., tanggal 18 Oktober 2019 di Universitas Ibn Khaldun Bogor.

Konsep manusia secara khusus yaitu subjek sekaligus objek penelitian, hakikat manusia secara spiritual sering kali terlewatkan oleh metode empiris, psikologi modern membahas perilaku yang tampak saja pada manusia, dan pertanyaan abadi seperti dari mana manusia berasal? Siapa sebenernya kita? Untuk apa kita hidup? Dan semacamnya.

Konsep manusia melalui empirisme adalah pengalaman menghasilkan makna, dan pengamatan menghasilkan ilmu pengetahuan.

Kelemahan Teori Darwin
• Proses evolusi lebih seperti spekulasi dibanding teori ilmiah
• Tidak ada mata rantai evolusi
• Menghasilkan pemikiran Darwinisme Sosial yabg sangat destruktif, contohnya orang Jerman pada zaman dahulu yang memuliakan Hitler dan membunuh orang Yahudi secara masal

Allah meciptakan langit dan bumi selama enam hari

  • Allah ciptakan bumi di dua hari pertama
  • Hari kedua hingga hari ke empat Allah ciptakan pohon dan gunung
  • Hari keempat hingga hari keenam Allah ciptakan langit dan Nabi Adam as


Ada yang berpendapat bahwa bumi yang dimaksud sudah termasuk atmosfer sebagai bagian dari bumi. Sedangkan langit yang dimaksud adalah keseluruhan langit hingga tujuh lapis langit dan manusia tidak mengetahui seberapa jauh batasannya. Makanya bumi termasuk atmosfernya diciptakan di dua hari pertama, dan langit di dua hari terakhir. Penyempurnaan penciptaan langit dan bumi di hari Jumu’ah (Jumat) yang artinya “selesai”.

Allah berfirman dalam Q.S Al-Hijr ayat 28-29 bahwa Dia telah menciptakan manusia dari tanah liat kering dari lumpur hitam yang dibentuk lalu ditiupkan ruh ciptaan-Nya.
Allah SWT berfirman:

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلٰٓئِكَةِ إِنِّى خٰلِقٌۢ بَشَرًا مِّنْ صَلْصٰلٍ مِّنْ حَمَإٍ مَّسْنُونٍ
فَإِذَا سَوَّيْتُهُۥ وَنَفَخْتُ فِيهِ مِنْ رُّوحِى فَقَعُوا لَهُۥ سٰجِدِينَ
"Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, Sungguh, Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Maka apabila Aku telah menyempurnakan (kejadian)nya, dan Aku telah meniupkan roh (ciptaan)-Ku ke dalamnya, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud." (QS. Al-Hijr 15: Ayat 28 - 29)
* Via Al-Qur'an Indonesia http://quran-id.com


Dalam Q.S Al-A’raf ayat 172, Allah berfirman bahwa manusia sejak di alam ruh telah bersaksi bahwa Allah-lah Tuhan mereka.
Allah SWT berfirman:

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنۢ بَنِىٓ ءَادَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلٰىٓ أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ  ۖ قَالُوا بَلٰى  ۛ شَهِدْنَآ  ۛ أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيٰمَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هٰذَا غٰفِلِينَ
"Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari sulbi (tulang belakang) anak cucu Adam keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap roh mereka (seraya berfirman), Bukankah Aku ini Tuhanmu? Mereka menjawab, Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari Kiamat kamu tidak mengatakan, Sesungguhnya ketika itu kami lengah terhadap ini," (QS. Al-A'raf 7: Ayat 172)
* Via Al-Qur'an Indonesia http://quran-id.com

Dalam Q.S Al-Mu'minun ayat 12-15 Allah berfirman tentang penciptaan manusia di alam rahim.

Allah SWT berfirman:
وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسٰنَ مِنْ سُلٰلَةٍ مِّنْ طِينٍ(12)
ثُمَّ جَعَلْنٰهُ نُطْفَةً فِى قَرَارٍ مَّكِينٍ(13)
ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظٰمًا فَكَسَوْنَا الْعِظٰمَ لَحْمًا ثُمَّ أَنْشَأْنٰهُ خَلْقًا ءَاخَرَ  ۚ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخٰلِقِينَ(14)
ثُمَّ إِنَّكُمْ بَعْدَ ذٰلِكَ لَمَيِّتُونَ(15)
"Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami menjadikannya air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kukuh (rahim). Kemudian, air mani itu Kami jadikan sesuatu yang melekat, lalu sesuatu yang melekat itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian, Kami menjadikannya makhluk yang (berbentuk) lain. Maha Suci Allah, Pencipta yang paling baik. Kemudian setelah itu, sungguh kamu pasti mati."
(QS. Al-Mu'minun 23: Ayat 12-15)
* Via Al-Qur'an Indonesia http://quran-id.com

Dalam Q.S Al-Baqarah ayat 30 Allah berfirman bahwa manusia akan dijadikan khalifah di bumi.
Allah SWT berfirman:
وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلٰٓئِكَةِ إِنِّى جَاعِلٌ فِى الْأَرْضِ خَلِيفَةً  ۖ قَالُوٓا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَآءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ  ۖ قَالَ إِنِّىٓ أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ
"Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, Aku hendak menjadikan khalifah di bumi. Mereka berkata, Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu? Dia berfirman, Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 30)
* Via Al-Qur'an Indonesia http://quran-id.com

Dalam Q.S Az-Zariyat ayat 56, Allah berfirman bahwa tujuan diciptakan manusia adalah beribadah hanya kepada-Nya.
Allah SWT berfirman:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
"Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku."
(QS. Az-Zariyat 51: Ayat 56)
* Via Al-Qur'an Indonesia http://quran-id.com

Menurut Imam Al-Ghazali, tubuh manusia adalah kendaraan jiwa, tujuan manusia adalah bertemu langsung dengan Allah. Hal itu dapat diwujudkan dengan ibadah hanya kepada Allah.

Jiwa tersebut membutuhkan makanan, yaitu ilmu pengetahuan yang bahan-bahannya adalah amal sholeh.

Kamis, 17 Oktober 2019

Adab Guru dan Murid dalam Berilmu

Assalamualaikum! Kali ini Naila mau share catatan perkuliahan Naila dengan tema Adab Berilmu dan Beramal. Ini aku dapat dari mata kuliah Islamic Worldview bersama dosen kami Dr. Wido Supraha, M.Si., pada tanggal 15 Oktober 2019 di Universitas Ibn Khaldun Bogor.

Manusia terdiri dari tiga hal, yaitu akal, ruh/qolbu, dan jasad. Memenuhinya tentu dengan cara yang berbeda-beda. Akal memerlukan ilmu, qolbu memerlukan dzikir, dan jasad memerlukan amal. Untuk beramal, kita perlu makanan dan minuman agar dapat bergerak untuk melakukan amal. Makanan dan minuman yang dikonsumsi selain halal dan toyib haruslah tawazon (seimbang) karena jika kekurangan kita akan sakit, lemas dan tidak mampu melakukan amal, sedangkan jika berlebihan kita akan menjadi malas, mengantuk, dan enggan mengerjakan amal.

Ada hal yang harus dipenuhi sebelum beramal, dan diawali dengan disiplin.
> Disiplin yaitu terbiasa dengan pemahaman baiknya
> Terbiasa disiplin dan menjadi kebiasaan baik
> Beradab
> Disiplin jiwa, pikiran, dan tubuh
Dengan memiliki adab dari kebiasaannya berdisiplin, maka ia siap menuntut ilmu. Dengan dimilikinya ilmu, maka ia akan tahu bagaimana beramal yang seharusnya. Setelah beramal, maka ia akan beramal variatif, yaitu beramal di berbagai macam bidang. Hal itulah yang akan menjadi keberkahan.

Berilmu tanpa adanya adab, maka seseorang akan memperoleh ilmu yang tidak benar. Apalagi mengamalkannya, amalnya akan menjadi amal kosong dan tidak bermanfaat.

Jadi urutannya adalah adab, ilmu, lalu amal. Tanpa urutan tersebut, maka seseorang tidak akan memperoleh keberkahan.

Iman itu melelahkan karena iman itu harus diamalkan. Sedangkan beramal haruslah bergerak. Makanya, orang yang beramal terus-menerus akan merasakan lelah. Tapi jika niatnya hanya karena Allah, maka lelah itu akan terasa nikmat dengan keberkahan yang Allah berikan.

Ketika menuntut ilmu, kita haruslah memiliki adab yang sesuai. Adab menjadi murid menurut Imam An-Nawawi dalam kitab At-Tabyaan fi Aadaabi Hamalat Al-Quran, yaitu
  1. Memiliki niat belajar untuk mencari ridho Allah
  2. Tujuan belajar bukan hanya untuk kepentingan dunia saja
  3. Fokus dalam belajar
  4. Menjauhkan diri dari perbuatan dosa dan maksiat
  5. Tawadhu terhadap guru
  6. Bediskusi dan meminta nasihat kepada guru
  7. Belajar kepada guru yang ahli di bidangnya
  8. Menghormati dan memuliakan guru
  9. Bersih jasmani dan rohani ketika belajar
  10. Menghormati teman-temannya
  11. Melihat dan memahami kondisi guru
  12. Bersabar terhadap sikap dan perilaku guru
  13. Mempunyai semangat yang tinggi dan kemauan yang keras
  14. Bersungguh-sungguh dalam belajar
  15. Belajar di pagi hari
  16. Rajin mengulang pelajaran yang lalu
  17. Menjauhi sifat hasad
  18. Mengucap salam pada guru ketika bertemu
  19. Mempersiapkan hati untuk belajar


Dan sebagai seorang guru pun, kita haruslah memiliki adab. Adab menjadi guru menurut Imam An-Nawawi dalam kitab At-Tabyaan fi Aadaabi Hamalat Al-Quran, yaitu
  1. Lemah lembut terhadap murid
  2. Menasihati muridnya untuk tetap memuntut ilmi
  3. Mengawasi murid
  4. Rendah hati
  5. Semangat mengajarkan/membagikan ilmu
  6. Tidak menolak mengajari seseorang meskipun niat muridnya tidak baik
  7. Mendahulukan murid yang dahulu datang
  8. Meninggalkan tempat yang dapat merendahkan ilmu
  9. Memperluas majelis ilmu
  10. Menjauhi faktor penghalang dalam mengajar